Jumat, 11 April 2025

PERAN #UANGKITA DALAM MEMBERANTAS PENINGKATAN STUNTING MENUJU INDONESI EMAS 2045

 PERAN #UANGKITA DALAM MEMBERANTAS PENINGKATAN STUNTING MENUJU INDONESI EMAS 2045

Paquita Luthfira Putri

SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin

 

ABSTRAK

Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang menjadi atensi utama dunia termasuk Indonesia dengan angka 37,2%. Indonesia menempati peringkat kedua di ASEAN untuk anak-anak stunting pada tahun 2015, di bawah Laos. Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara dengan angka anak stunting tertinggi kedua. Pada tahun 2024, pemerintah ingin menurunkan frekuensinya menjadi 14%. Artinya, dalam 2,5 tahun ke depan, Indonesia harus menurunkan angka kejadian sebesar 10,4%.

Pemahaman terhadap strategi penanganan stunting dengan pemerintah sangat diperlukan  untuk mengatasi masalah stunting sehingga dapat terjadinya perbaikan generasi masa depan yang sehat, berdaya saing, dan berkualitas.  Penggunaan  anggaran   yang tidak   dimanfaatkan   dengan   baik sehingga dapat memengaruhi efektivitas dan   keberhasilan   kebijakan   penanganan stunting.

Alokasi anggaran penanganan stunting dalam APBN dan APBD yang tidak sesuai dengan prioritas utama, menjadi pemicu dalam sulitnya menyelesaikan masalah ini.

Karena adanya pengurangan anggaran pendapatan dan belanja negara dan daerah (APBN dan APBD), maka pemerintah dan pemerintah daerah harus dapat memberikan prioritas terhadap sumber daya yang tersedia guna memperluas cakupan pelayanan. Pemerintah melakukan tindakan menurunkan stunting melalui 3 intervensi, yaitu intervensi spesifik, sensitif, dan dukungan sosial. Untuk itu diperlukan koordinasi antar Kementerian/Lembaga (K/L)  yang baik serta bertanggung jawab.

Kata Kunci: Stunting, APBN, Gizi, Implementasi Kebijakan

PENDAHULUAN

Pembangunan Sumber Daya Manusia menentukan produktivitas generasi yang akan datang, intervensi stunting krusial dalam pembangunan kualitas SDM untuk menciptakan generasi yang produktif dan berdaya saing tinggi. Pemerintah telah menetapkan ketika seorang anak mengalami stunting, tubuhnya gagal tumbuh akibat kekurangan gizi yang terus berlanjut, sehingga membuat mereka terlalu kecil untuk usianya. Stunting biasanya disebabkan oleh penyakit yang berkepanjangan dan kekurangan gizi yang berkepanjangan. Karena stunting mempunyai dampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan—terutama mengingat sumber daya manusia sering dipandang sebagai penentu utama kemajuan suatu bangsa—masalah ini menjadi penting untuk diatasi.

 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2020–2024), pemerintah telah menjadikan stunting sebagai isu prioritas nasional, dengan target penurunan yang besar yaitu sebesar 24,4% pada tahun 2021 menjadi 14% pada tahun 2024. Kementerian Kesehatan melaporkan prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 21,5 persen, turun sedikit sebesar 0,1 persen dari tahun sebelumnya sebesar 21,6 persen (Admin, 2024). Pemerintah menangani stunting melalui 3 (tiga) intervensi, yaitu intervensi spesifik, intervensi sensitif dan intervensi dukungan yang melibatkan instansi (K/L).

 

ISI DAN PEMBAHASAN

Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Selain itu, anak-anak yang mengalami stunting kemungkinan besar adalah orang dewasa yang mengidap penyakit kronis. Faktanya, stunting dan malnutrisi diperkirakan mengurangi PDB sebesar 2-3% setiap tahunnya (Cahyaningrum, 2020). Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan tahun 2021, terdapat 24,4% penduduk Indonesia yang diperkirakan mengalami stunting pada tahun 2021 (Tarmizi, 2023), atau turun sebesar 6,4% dari 30,8% pada tahun 2018, menunjukkan bahwa angka stunting pada anak balita di Indonesia masih jauh lebih tinggi dibandingkan ambang batas WHO sebesar 20% (Azhari & Mahwati, 2022).

 

Gambar 1 Stunting Menurun, namun perlu percepatan untuk mencapai target 14% di tahun 2024 (Schoolmedia, 2022).

 

Dengan angka 37,2%, Indonesia menempati peringkat kedua di ASEAN untuk anak-anak stunting pada tahun 2015, di bawah Laos.

Gambar 2 Prevalensi Stunting di Kawasan ASEAN (2015) (Databoks, 2018)

 

Berdasarkan gambar di atas sudah tertera bahwasannya kawasan Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara dengan angka anak stunting tertinggi kedua. Pada tahun 2024, pemerintah ingin menurunkan frekuensinya menjadi 14%. Artinya, dalam 2,5 tahun ke depan, Indonesia harus menurunkan angka kejadian sebesar 10,4%, yang tentunya akan sulit dilakukan oleh semua pihak. Oleh karena itu, penurunan stunting ini dilakukan bersama-sama oleh semua Kementerian/Lembaga (K/L) yang sangat penting.

Dengan demikian diperlukan koordinasi lintas kementerian/lembaga terkait, provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah desa/kabupaten untuk melakukan sinkronisasi dan penggabungan program dan kegiatan dalam upaya percepatan penurunan stunting secara menyeluruh. Karena adanya pengurangan anggaran pendapatan dan belanja negara dan daerah (APBN dan APBD), maka pemerintah dan pemerintah daerah harus dapat memberikan prioritas terhadap sumber daya yang tersedia guna memperluas cakupan pelayanan bagi kelompok sasaran dan mempercepat pengurangan anggaran. Pemerintah melakukan tindakan menurunkan stunting melalui 3 intervensi:

1.      Intervensi Spesifik

Merupakan kegiatan yang langsung mengatasi penyebab terjadinya stunting. Menurut (Tarmizi, 2023) terdapat sebelas jenis intervensi yang ditargetkan: skrining anemia pada remaja putri, pemberian tablet suplemen darah (TTD) pada remaja putri, pemeriksaan kehamilan (ANC), pemberian tablet suplemen darah pada ibu hamil, pemberian makanan tambahan pada ibu hamil dengan penyakit kronis, kekurangan energi (KEK), mengawasi tumbuh kembang balita, pemberian ASI eksklusif, pemberian MPASI pada balita yang kaya protein hewani, penanganan balita bermasalah gizi, peningkatan cakupan imunisasi, edukasi pada remaja, ibu hamil dan keluarganya, serta desa bebas buang air besar sembarangan (BABS).

2.     Intervensi Sensitif

Hal-hal inilah yang berdampak tidak langsung terhadap prevalensi stunting. Terdapat empat kategori intervensi sensitif: akses terhadap makanan padat gizi, layanan gizi dan kesehatan, air minum dan sanitasi, serta peningkatan kesadaran akan perawatan dan gizi (cegahstunting.id, 2023).

3.     Intervensi  Dukungan

Kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap tantangan mungkin terhambat oleh kurangnya dukungan sosial. Kendala individu dalam hal kualitas pendidikan, kesadaran, keterbatasan waktu, dan kendala finansial menjadi salah satu penyebabnya. Interaksi sosial yang erat (orang tua, saudara kandung, guru, teman sebaya, dan lingkungan komunal) merupakan sumber dukungan sosial.  Keluarga seseorang merupakan konteks sosial terdekat yang dapat mendukungnya (Muthmainah, 2022). Dukungan keluarga merupakan penerimaan anggota keluarga yang bersedia memberikan bantuan apabila diperlukan. Bentuknya saling mendukung dalam sikap dan perbuatan. Menurut penelitian Titoni (2024) agar program dapat berkelanjutan pentingnya peran  Badan  Pengawasan  Keuangan  dan  Pembangunan  (BPKP).

 Bahwa BPKP harus terlibat secara serius dalam mengawasi penganggaran dan penggunaan APBN  serta  APBD  di  seluruh  lapisan  pemerintahan,  baik  pusat  maupun  daerah.  Agar dapat  memastikan bahwa alokasi anggaran yang signifikan untuk penanganan stunting benar-benar mencapai sasaran yang diinginkan serta dapat dipertanggung jawabkan. Alokasi APBN dan APBD harus benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, dan tidak boleh terbuang untuk kepentingan administratif yang tidak relevan dengan penanganan stunting. kebutuhan akan pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan  anggaran  secara  langsung  di  lapangan.  Tanpa adanya pengawasan yang cermat, risiko terjadinya  penyalahgunaan  dana  masih sering dilakukan.  Kelemahan dalam pengawasan dapat mengakibatkan pemborosan dan ketidaktepatan  sasaran,  sehingga  mengurangi  efektivitas  program  penanganan  stunting secara keseluruhan.

 

PENUTUP

Sumber daya manusia dipandang sebagai penentu utama kemajuan suatu bangsa.  Stunting menjadi Isu  yang harus segera diatasi, karena berpengaruh pada produktivitas generasi yang akan datang. Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Selain itu, anak-anak yang mengalami stunting kemungkinan besar adalah anak-anak yang mengidap penyakit kronis berkelanjutan. Untuk itu diperlukan koordinasi antar Kementerian/Lembaga (K/L) yang krusial.

Dengan demikian diperlukan kerja sama yang erat lintas kementerian/lembaga terkait, provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah desa/kabupaten untuk melakukan pengefektifitasan program upaya percepatan penurunan stunting secara menyeluruh.  Masalah ini harus segera diselesaikan karena mempengaruhi impliikasi kepada kehidupan, produktivitas mereka, dan kemajuan ekonomi serta sulitnya mencapai visi kita, yaitu Generasi cerdas, Indonesia emas 2045.

 

DAFTAR PUSTAKA

Admin. (2024). Menkes Budi Soroti Lambatnya Penurunan Angka Stunting di Indonesia. Dinkes Papua. https://dinkes.papua.go.id/menkes-budi-soroti-lambatnya-penurunan-angka-stunting-di-indonesia/

Azhari, C., & Mahwati, Y. (2022). Kajian Naratif: Intervensi Pencegahan Dan Pengendalian Stunting. Prosiding Simposium Nasional Multidisiplin (SinaMu), 4, 506. https://doi.org/10.31000/sinamu.v4i0.8291

Cahyaningrum, Y. D. (2020). Polemik Stunting dan Pembangunan. FEB UI. https://feb.ub.ac.id/polemik-stunting-dan-pembangunan/

cegahstunting.id. (2023). Pengertian Stunting. https://cegahstunting.id/intervensi/intervensi-sensitif/

Databoks. (2018). Prevalensi Stunting Balita Indonesia Tertinggi Kedua di ASEAN. Databoks. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/11/22/prevalensi-stunting-balita-indonesia-tertinggi-kedua-di-asean

Muthmainah, M. (2022). Dukungan Sosial dan Resiliensi pada Anak di Wilayah Perbukitan Gunung Kidul Yogyakarta. Diklus: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 6(1), 78–88. https://doi.org/10.21831/diklus.v6i1.48875

Schoolmedia, E. (2022). Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Banten Provinsi Stunting Tertinggi. Schoolmedia. https://news.schoolmedia.id/lipsus/Jawa-Barat-Jawa-Timur-Jawa-Tengah-Sumatera-Utara-dan-Banten-Provinsi-Stunting-Tertinggi-3084

Tarmizi, D. S. N. (2023). 11 Intervensi Spesifik Atasi Stunting Telah Dilaksanakan di Daerah, 2 Di Antaranya Melebihi Target. Rokom. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230623/1543354/11-intervensi-spesifik-atasi-stunting-telah-dilaksanakan-di-daerah-2-di-antaranya-melebihi-target/#:~:text=Ada 11 intervensi spesifik yang,ASI eksklusif%2C pemberian MPASI kaya

Titoni, M. H., Osbaldi, G. A., & Khairani, A. (2024). Analisis Problematika Penanganan Stunting Di Indonesia Melalui Evaluasi Kebijakan Pemerintah. 1, 9–13.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar