ANTARA HATI DAN PIKIRAN
By : Azizah Qurrotul Aqyun
Bagaimana menurutmu,
apabila pikiran dan perasaanmu saling memerangi satu sama lain mengenai suatu
hal?. Begitu memusingkan dan menyesakkan di waktu yang bersamaan. Dibuat terombang-ambing
dalam mengambil suatu keputusan. Seringkali juga diberi pilihan untuk
mementingkan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, atau mementingkan
diri sendiri dengan tidak mempedulikan orang lain. Memilih menyakiti diri
sendiri atau orang lain.
Sebagian besar
manusia pasti pernah merasakan hal ini. Begitu pula diriku. Untuk lebih
lengkapnya, simaklah kisah ini.
***
Namaku Zahro Alveena. Gadis
berusia enam belas tahun yang sedang menjalani proses menuju kehidupan dewasa.
Mulai merasakan pahit-manisnya kehidupan.
Sebenarnya, aku sudah merasakannya dari aku masih kecil. Dari sejak
aku berada di Taman Kanak-Kanak. Aku selalu diejek, dihina, diperbudak. Apakah
bisa disebut bullying?. Entahlah. Hanya saja aku memiliki trauma yang
cukup dalam mengenai hal itu. Orang tua?. Aku tidak ingin memberi tahu mereka
tentang hal itu. Aku hanya memendamnya seorang diri. Yang sayangnya, masih
kulakukan hingga saat ini. Memendam. Kenapa?. Karena setiap diri ini bercerita
tentang masa lalu, toh, tidak semua yang mendengar itu peduli. Mereka hanya
mengangguk. Dua-tiga orang menguatkan dan menyemangatiku. Namun, tak sedikit
juga yang meremehkan dan semakin merendahkanku. Ya, hanya Tuhan-lah tempat
bersandar yang sebenarnya.
Aku pernah mencuri ketika aku masih duduk di bangku kelas satu SD.
Aku mencuri uang saku yang disimpan orang tuaku untukku nantinya. Aku membeli
banyak mainan dari uang itu, untukku dan mereka yang meremehkanku. Aku ingin
membuktikan bahwa aku tidak seperti yang mereka bicarakan. Dan ya, tentu aku
ketahuan. Ayahku marah besar. Melempar mainan-mainanku ke lantai. Saat itu, aku
hanya bisa menangis. Dan ya, aku baru menyadari itu salah beberapa tahun
setelahnya. Bagaimana aku tidak sadar?. Umurku masih enam tahun saat aku
pertama kalinya mencuri. Orang tuaku tidak tahu alasanku yang sebenarnya. Yang
mereka tahu, aku mencuri untuk kesenanganku saja.
Luka-luka itu. Luka masa lalu itu benar-benar membuatku menutup
diri. Anti sosial. Tidak percaya diri. Dan banyak hal lainnya yang berubah dari
diriku.
Suatu hari ibuku berkata, “Kak Zahro dulu tidak begitu. Kak Zahro
dulu ceria, aktif, banyak bertanya, lincah. Seperti adik-adik kak Zahro”. Aku
terdiam, tersenyum simpul. Lalu ibuku berkata lagi, “Maaf ya, kak. Itu salah
ibu. Jika ibu tidak meninggalkan kak Zahro dengan pembantu yang pendiam dan
suka melamun itu, pasti kak Zahro masih seperti adik kak Zahro. Ibu masih belum
berhenti bekerja, hingga guru kak Zahro mengabarkan bahwa kak Zahro suka
melamun di kelas”. Aku masih diam. Tidak menanggapi sepatah kata pun. Tidak.
Tentu saja itu tidak sepenuhnya salah ibuku. Aku ingin mengatakannya, tetapi
tenggorokanku terasa tercekat. Sehingga aku hanya bisa tersenyum tipis.
Empat tahun lalu, ketika aku berusia dua belas tahun. Selepas lulus
dari Sekolah Dasar, aku mewujudkan keinginan kedua orang tuaku yang ingin
anak-anaknya masuk pondok. Tentunya aku setuju. Aku begitu senang. Saat itu aku
masih tidak tahu apa-apa. Mengira kehidupan di pondok akan sangat menyenangkan.
Jauh dari orang-orang yang suka mengganggu.
Dan kenyataannya berbanding terbalik dengan ekspetasi yang pernah
aku bayangkan. Di sisi lain, aku bersyukur, karena terlindungi dari kerasnya
kehidupan di luar pondok. Melihat diri sendiri seperti ini, aku tidak mungkin
bisa bertahan di SMP atau SMA negeri. Cukup waktu SD saja. Tetapi tentu tidak
bisa berhenti disitu.
Di awal kehidupanku di pondok itu. Aku yang menutup diri, sulit
mendapat teman. Namun, di hari aku masuk ke pondok itu, aku begitu senang.
Karena salah seorang teman SD-ku, ikut masuk ke pondok itu bersamaku. Kami satu
kamar, memudahkanku beradaptasi.
Namanya Aqila. Umurnya lebih muda satu tahun dariku. Ia cantik,
periang. Banyak yang menyukainya. Nama kamarku ‘Ummu Salamah’, dihuni oleh dua
belas orang. Termasuk aku dan Aqila. Terdiri dari enam anak kelas tujuh, dua
anak kelas delapan, dan empat anak kelas sembilan. Yang secara berurutan,
anggotanya terdiri dari aku, Aqila, Rima, Aisyah, Naya, Kirani, kak Nazwa, kak
Ajda, kak Rachel, kak Nasya, kak Adis, dan kak Kayla. Mereka semua orang yang
menyenangkan. Hingga pada suatu waktu, masalah demi masalah bermunculan. Aqila
mulai menunjukkan sifat aslinya. Menunjukkan ketidaksukaannya padaku, yang aku
tidak tahu sebabnya apa. Tentu aku cukup sadar diri, aku belum bisa mandiri
disana. Membuatku terlihat pemalas dan menjijikan. Namun, saat itu, yang
seharusnya Aqila dan yang lainnya menasihatiku, memberi arahan. Mereka malah
menjauhiku, menyindirku, dan tidak mempedulikanku. Sebenarnya tidak semua,
Aisyah dan Rima hanya diam, tidak melakukan apapun. Begitu juga Kirani. Ia anak
pindahan, datang di minggu kedua bulan pertama disana. Keluarganya orang-orang
yang kaya. Ia memiliki banyak makanan. Sehingga, membuatnya hanya didatangi
ketika ia memiliki makanan. Jika tidak, ia dijauhi. Nasib yang hampir sama,
membuatnya tidak ikut menjauhiku. Ia hanya diam saja.
Dan tekanan demi tekanan itu, membuatku tidak nyaman berada di
kamar. Aku selalu mencari kesibukan yang membuatku lebih sering menghabiskan
waktu di luar kamar.
Suatu hari, Aqila pernah menyindirku, “Sayang sekali dia pindah,
dia anak baik. Tidak seperti itu, tuh. Sok baik. Tahu`kan, siapa?”. Sinisnya,
mengungkit cerita salah satu teman sekelasku yang baru saja pindah. Aku yang
baru masuk ke kamar itu tersentak. Hatiku teriris mendengarnya. Aku bergegas
mengambil barang yang tertinggal, lantas keluar dari kamar. Ia pernah meminta
maaf. Tentu saja aku memaafkannya. Walaupun dia mengulangnya kembali setelah
itu.
Satu semester berlalu, kini aku berada di kamar ‘Fathimah’, yang
berisi delapan orang. Nyaman sekali berada di kamar itu. Tetapi, suatu waktu,
sebuah masalah besar menimpaku. Aku difitnah oleh teman sekelasku. Malam itu,
anak-anak kelas tujuh A disidang ustadzah. Masalahnya, karena mereka memainkan
permainan yang tidak seharusnya dimainkan. Namun, masalah utamanya tidak hanya
itu. Seseorang yang memfitnahku sebelumnya menyayat tangannya, meneteskan
darahnya di atas papan permainan itu. Itulah yang membuat para ustadzah marah
besar. Aku yang tidak ikut bermain, tetapi difitnah melapor ke ustadzah, hanya
bisa menangis malam itu. Aqila berusaha menenangkanku. Aku tidak tahu dia
melakukannya sepenuh hati atau tidak. Hatiku sakit sekali waktu itu, aku tidak
bisa berhenti menangis hingga aku terlelap dalam tidurku. Dan ya, esoknya
mataku benar-benar bengkak, hingga berubah bentuknya. Menyipit. Membuat
orang-orang sulit mengenaliku. Orang yang memfitnahku tidak pernah meminta
maaf. Bahkan, sampai waktu ia pindah sekolah.
Waktu demi waktu terlewati, pandemi Covid-19 datang menghampiri.
Membuat pondokku diliburkan selama satu tahun lebih. Dan setelah aku kembali,
aku sudah duduk di bangku kelas delapan semester dua. Begitu banyak hal yang
membuatku berubah selama pandemi itu. Aku merasa ada yang memberontak di dalam
diriku. Menuntutku agar lebih terbuka dan berbaur dengan teman-temanku.
Melupakan masa-masa menyakitkan yang pernah dialami. Dan disitulah, aku merasa
setengah dari diriku yang dulu kembali. Aku menjadi lebih banyak tersenyum,
lebih ceria, berusaha berbaur di tengah tekanan batin itu. Di tengah trauma
yang masih menghantui itu. Tentunya sedikit perubahan itu mengantarkanku kepada
hal-hal yang baik. Walaupun tak luput juga pengalaman-pengalaman yang lagi dan
lagi membuat diri ini tertekan. Tetapi dari hal itu, aku belajar banyak hal.
Membuatku menjadi lebih kuat, lebih baik dari sebelumnya. Selalu berusaha yang
terbaik untuk orang lain.
Dan di masa-masa kelas sembilan, masa dimana aku merasakan pikiran
dan hatiku selalu berselisih.
Seperti saat aku sedang berhadapan dengan seseorang atau sekelompok
orang, pikiranku selalu membuatku mengalah, walau di dalam hatiku rasanya sakit
dan ingin membela diri.
Di tengah perubahan itu pula, aku banyak melakukan kesalahan. Yang
membuat banyak orang tidak menyukaiku. Menemukan banyaknya kekurangan dalam
diri ini. Ditambah ketidakadaannya rasa percaya diri, juga selalu merendahkan
diri sendiri. Membuatku membenci diriku sendiri. Dan seiring berjalannya waktu,
rasa benci itu semakin menjadi. Aku mulai suka menyakiti diriku sendiri.
Seperti membenturkan kepalaku ke dinding, dan memukulkan tanganku yang terkepal
ke dinding atau ke lantai. Melampiaskan amarah yang terpendam. Aku tidak merasa
perbuatanku salah waktu itu, sehingga aku terus melakukannya.
Di penghujung kelulusan, ustadzah mengumpulkan anak-anak angkatanku.
Ustadzah menegaskan, bahwa ustadzah menemukan banyaknya anak angkatanku yang
suka menyakiti diri mereka dengan menyayat bagian-bagian tubuh mereka sendiri.
Bahkan, tanpa ragu ustadzah menyebutkan nama-namanya. Disitulah aku tersadar,
bahwa yang aku lakukan itu salah. Dan sejak saat itu aku menahan diri, sebenci
apapun aku pada diriku sendiri.
Dan waktu pun berlalu begitu cepat. Kini, aku kembali ke kampung
halamanku. Melanjutkan menuntut ilmu disana. Aku masuk di pondok yang jaraknya
tidak terlalu jauh dari rumahku. Dan di awal aku berada di pondok itu, aku
berada di kamar ‘Sumayyah-1’, yang dihuni delapan orang. Dua orang kelas
sepuluh dan enam orang kelas tujuh. Awal masuk, aku sedikit sulit beradaptasi.
Terkejut karena pondok itu berkali-kali lebih besar dari pondok yang
sebelumnya. Ditambah adanya santri putra. Pondokku sebelumnya, pondok yang
kecil. Tiga angkatan saja tidak sampai seratus orang.
Waktu demi waktu kembali berputar, anak-anak kamar mulai
menunjukkan sifat aslinya. Jauh berbeda dari awal saling mengenal. Teman SMA
sekamarku, Sherly namanya. Ia begitu tertutup. Melihatnya aku seperti melihat
diriku yang dulu. Anak-anak kelas tujuh itu, Dila, Ara, Fida, Dinda, Defa, dan
Bellicia. Mereka anak-anak yang menyenangkan. Selalu meramaikan suasana kamar.
Tetapi, di sisi lain, merekalah yang membuatku tertekan. Sikap mereka yang
kurang sopan, kata-kata mereka yang kasar, dan lainnya. Meskipun aku juga
memiliki banyak kekurangan, setidaknya aku selalu berusaha yang terbaik. Sebagai
ketua kamar dan kakak kelas mereka, aku selalu berusaha mengajari mereka hal
yang baik, menasihati mereka apabila ada kesalahan, meminta maaf atas
kekurangan diri, dan lainnya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, sikap mereka
semakin memburuk. Mereka keras kepala, tidak ingin mendengar apa yang aku
katakan. Mereka semua kecuali Ara. Ara cukup dekat denganku, aku tidak tahu apa
yang sebenarnya membuat kami dekat. Tetapi, itu terjadi ketika ia memiliki
masalah dengan anak kelas tujuh lainnya. Sherly?. Ia hanya diam saja. ia yang
tertutup dan polos, menjadi sasaran empuk bagi anak-anak kelas tujuh itu.
Hingga pada suatu waktu, mereka menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadapku,
yang semakin lama semakin kentara. Mereka tanpa menahan diri, suka
membicarakanku di belakang, dan juga tak segan untuk menyindirku ketika aku
berada di kamar. Tentu aku tahu mereka membicarakanku, aku mengetahuinya dari
Ara. Dan hal itu, membuat rasa traumaku kembali. Tekanan-tekanan itu kembali
membuatku menjadi pendiam. Aku hanya berbicara ketika diperlukan. Tidak lebih.
Aku juga menjadi jarang di kamar. Mengulang hal yang sama di ‘Ummu Salamah’
dulu. Mereka juga ikut mendiamkanku. Di kamar, aku hanya berinteraksi dengan
Sherly dan Ara. Dan masalah itu memuncak ketika para kakak pengurus mengadakan
lomba ‘bulan bahasa’. Aku yang bertugas mengurus properti angkatan di lomba
dramusi, semakin menyibukkan diri di luar kamar. Berusaha yang terbaik untuk
membuat background drama angkatan. Dan di tengah proses pembuatan background
itu, tekanan itu semakin besar. Membuatku berangkat sekolah lebih pagi, dan
pulang lebih malam ketika mengerjakan background dramusi itu.
Dan ketika malam dramusi itu dilaksanakan, anak-anak yang bertugas
mengangkat serta menukar background melakukan kesalahan. Kesalahan yang
tidak bisa dibilang kecil. Mereka meletakkan background yang salah pada
suatu adegan!. Dari barisan penonton, aku berusaha memberi kode dengan bahasa
isyarat. Dan ya, cara itu tidak berhasil. Aku mulai tidak bisa menikmati drama
dari waktu itu. Mungkin yang lainnya menganggapnya remeh. Tapi bagiku, itu
bukan hal yang bisa diremehkan. Dan aku kembali mengulang kesalahan. Aku
memukul-mukul kepalan tanganku ke lantai aula. Aku tidak bisa lagi mengontrol
emosiku. Setelah lomba malam itu selesai, aku ‘meledak’. Ya, aku tidak bisa
menahan diri lagi. Tidak bisa memendam lagi. Di aula itu tersisa angkatanku dan
angkatan para kakak pengurus. Membuatku terlihat mencolok. Perasaanku campur
aduk. Tanganku terkepal semakin erat. Memukul diri sendiri. Air mataku turun
membasahi pipi, yang semakin lama semakin deras. Beberapa temanku panik.
Berusaha menenangkanku. Aku hanya bisa mendesis, melenguh tertahan. Teman di
sebelahku memelukku, berniat menenangkan. Dua orang temanku lainnya berusaha
menahan kepalan tanganku. Dan yang lainnya hanya melihat dari jauh. Atta, salah
satu teman yang menahan tanganku, memintaku berhenti dan bersabar. Tentu aku
tahu maksudnya baik. Tetapi pikiranku menyangkalnya, hati ini juga sudah
terlalu sakit. Tekanan yang kurasakan tidak sesederhana yang mereka lihat.
Bagaimana aku bisa berhenti?. Lestari, teman yang memelukku dari samping,
menguraikan pelukannya. Aku masih menangis, menggeleng ketika ditawarkan untuk
kembali ke kamar. Raeni, teman lainnya yang menahan tanganku, memintaku
melemaskan tanganku, karena itu akan menyakitiku. Tidak bisa. Aku tidak bisa.
Sedetik kemudian Raeni memelukku, berusaha menenangkan. Aku menangis terisak dalam
pelukannya, hingga kak Mutia, salah satu pengurus, datang menghampiriku.
“Kenapa?, Zahro kenapa?. Mau kembali ke kamar?”. Tanya kak Mutia
khawatir. Ia juga ikut menangis melihat kondisiku.
“Tidak. Ana tidak mau kembali ke kamar, ukhti. Tidak
mau”. Suaraku parau. Aku terus menggeleng, menolak tawaran yang sangat ingin
aku hindari.
Akhirnya, kak Mutia membawaku ke asrama. Kak Mutia berkata akan
membawaku ke tempat yang nyaman untuk bercerita di asrama. Malam itu, setelah
bercerita panjang lebar dengan kak Mutia, perasaanku lebih lega. Tetapi tetap
ada yang mengganjal. Anak kamarku disidang oleh beberapa kakak pengurus. Ara?,
ia menangis menceritakan kondisi kamar. Ia membelaku. Ingin membantuku. Dan setelah
beberapa kali di bujuk, aku akhirnya kembali ke kamar. Hanya satu-dua orang
yang meminta maaf. Sisanya berperilaku seolah tidak terjadi apa-apa. Aku hanya
diam, beranjak tidur.
Bulan demi bulan berlalu, aku tetap bertahan di tengah tekanan itu.
Hubunganku dan anak kamar mulai membaik. Tetapi tetap saja, luka itu masih
membekas. Hingga lagi dan lagi, masalah datang menghampiri.
Dan setiap aku tidak kuat lagi memendam, aku selalu bercerita ke
Raeni. Meminta saran darinya. Ya, sebenarnya aku merasa tidak enak
terus-menerus bercerita tentang masalahku padanya. Tetapi, dia satu-satunya
teman yang kupercaya. Suatu waktu Raeni pernah mengatakan kata-kata yang
menusuk. Ia mengatakan yang intinya aku harus mencintai diri sendiri.
Aku hanya menyengir. Berkata kalau aku akan berusaha.
Satu tahun di kamar itu akhirnya terlewati. Satu tahun yang begitu
melelahkan. Kini aku berada di kamar ‘Sumayyah-10’. Dan aku baru saja melewati
suatu masalah baru. Masalah yang hingga saat ini, rasa sakitnya masih
menghantui. Beberapa minggu sebelum pindah kamar, aku berselisih dengan salah
satu anak ‘Sumayyah-10’ yang lama. Sebenarnya masalahnya bukan dengannya.
Tetapi dengan temannya. Dia yang dekat dengan salah seorang kakak pengurus,
membuatnya mudah untuk membalas dendam temannya. Dengan mencari kesalahanku dan
melaporkannya pada kakak pengurus yang dekat dengannya.
Masalah ini bukan masalah kecil bagiku, karena ini melibatkan
banyak orang. Aku sungguh tertekan. Lagi-lagi hati dan pikiranku berlawanan.
Salah satu akibat dari tekanan itu, aku jadi jauh dengan teman dekatku yang
juga berada di ‘Sumayyah-10’ yang lama. Sebenarnya tidak ada masalah di antara
kami berdua. Hanya saja, karena aku ingin menghindari orang itu, membuat
pertemananku dengan teman dekatku merenggang. Dan yang luar biasa, sekarang aku
berada satu kamar dengannya. Teman dekat, yang kini sudah tidak bisa dikatakan
dekat lagi. Juga bersama anak tahfidz lainnya. Ya, kini Sumayyah lantai dua
dihuni oleh anak-anak tahfidz.
Beberapa hari setelah aku berada di ‘Sumayyah-10’, malamnya aku
memutuskan untuk merenung di rooftop asramaku.
“Ya Tuhan, betapa bodohnya hamba-Mu ini”. Aku tertawa. Menertawakan
diri sendiri. Disertai air mataku yang perlahan menetes.
“Kalau saja kemarin aku tidak sebodoh itu, pastinya aku dan dia
masih dekat”. Aku mengukir senyum getir.
Malam itu, aku merutuki diriku sendiri. Walaupun sebenarnya dalam
hatiku, aku tidak ingin menyalahkan diri sendiri. Tetapi, kenyataan ini
membuatku semakin membenci diriku sendiri.
“Yah, mau bagaimanapun itu sudah berlalu. Aku harus lebih baik lagi
kedepannya”. Tatapanku masih tertuju pada langit malam. Mencoba berdamai dengan
diri sendiri. Hatiku selalu berharap, agar Tuhan mengirimkan sesuatu atau
seseorang yang bisa membuatku sepenuhnya mencintai diriku sendiri.
-TAMAT-
Biografi Penulis
Hai, namaku Azizah Qurrotul Aqyun. Aku berasal dari Balikpapan,
Kalimantan Timur. Cerpen ini aku ambil dari sepotong kehidupan yang pernah aku
jalani. Ambil baiknya, buang buruknya, ya. Semoga bisa menginspirasi para readers.
Selamat membaca!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar