Kamis, 03 April 2025

ANTARA HATI DAN PIKIRAN

 

ANTARA HATI DAN PIKIRAN

By : Azizah Qurrotul Aqyun

 

   Bagaimana menurutmu, apabila pikiran dan perasaanmu saling memerangi satu sama lain mengenai suatu hal?. Begitu memusingkan dan menyesakkan di waktu yang bersamaan. Dibuat terombang-ambing dalam mengambil suatu keputusan. Seringkali juga diberi pilihan untuk mementingkan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, atau mementingkan diri sendiri dengan tidak mempedulikan orang lain. Memilih menyakiti diri sendiri atau orang lain.

            Sebagian besar manusia pasti pernah merasakan hal ini. Begitu pula diriku. Untuk lebih lengkapnya, simaklah kisah ini.

***

Namaku  Zahro Alveena. Gadis berusia enam belas tahun yang sedang menjalani proses menuju kehidupan dewasa. Mulai merasakan pahit-manisnya kehidupan.

Sebenarnya, aku sudah merasakannya dari aku masih kecil. Dari sejak aku berada di Taman Kanak-Kanak. Aku selalu diejek, dihina, diperbudak. Apakah bisa disebut bullying?. Entahlah. Hanya saja aku memiliki trauma yang cukup dalam mengenai hal itu. Orang tua?. Aku tidak ingin memberi tahu mereka tentang hal itu. Aku hanya memendamnya seorang diri. Yang sayangnya, masih kulakukan hingga saat ini. Memendam. Kenapa?. Karena setiap diri ini bercerita tentang masa lalu, toh, tidak semua yang mendengar itu peduli. Mereka hanya mengangguk. Dua-tiga orang menguatkan dan menyemangatiku. Namun, tak sedikit juga yang meremehkan dan semakin merendahkanku. Ya, hanya Tuhan-lah tempat bersandar yang sebenarnya.

Aku pernah mencuri ketika aku masih duduk di bangku kelas satu SD. Aku mencuri uang saku yang disimpan orang tuaku untukku nantinya. Aku membeli banyak mainan dari uang itu, untukku dan mereka yang meremehkanku. Aku ingin membuktikan bahwa aku tidak seperti yang mereka bicarakan. Dan ya, tentu aku ketahuan. Ayahku marah besar. Melempar mainan-mainanku ke lantai. Saat itu, aku hanya bisa menangis. Dan ya, aku baru menyadari itu salah beberapa tahun setelahnya. Bagaimana aku tidak sadar?. Umurku masih enam tahun saat aku pertama kalinya mencuri. Orang tuaku tidak tahu alasanku yang sebenarnya. Yang mereka tahu, aku mencuri untuk kesenanganku saja.

Luka-luka itu. Luka masa lalu itu benar-benar membuatku menutup diri. Anti sosial. Tidak percaya diri. Dan banyak hal lainnya yang berubah dari diriku.

Suatu hari ibuku berkata, “Kak Zahro dulu tidak begitu. Kak Zahro dulu ceria, aktif, banyak bertanya, lincah. Seperti adik-adik kak Zahro”. Aku terdiam, tersenyum simpul. Lalu ibuku berkata lagi, “Maaf ya, kak. Itu salah ibu. Jika ibu tidak meninggalkan kak Zahro dengan pembantu yang pendiam dan suka melamun itu, pasti kak Zahro masih seperti adik kak Zahro. Ibu masih belum berhenti bekerja, hingga guru kak Zahro mengabarkan bahwa kak Zahro suka melamun di kelas”. Aku masih diam. Tidak menanggapi sepatah kata pun. Tidak. Tentu saja itu tidak sepenuhnya salah ibuku. Aku ingin mengatakannya, tetapi tenggorokanku terasa tercekat. Sehingga aku hanya bisa tersenyum tipis.

Empat tahun lalu, ketika aku berusia dua belas tahun. Selepas lulus dari Sekolah Dasar, aku mewujudkan keinginan kedua orang tuaku yang ingin anak-anaknya masuk pondok. Tentunya aku setuju. Aku begitu senang. Saat itu aku masih tidak tahu apa-apa. Mengira kehidupan di pondok akan sangat menyenangkan. Jauh dari orang-orang yang suka mengganggu.

Dan kenyataannya berbanding terbalik dengan ekspetasi yang pernah aku bayangkan. Di sisi lain, aku bersyukur, karena terlindungi dari kerasnya kehidupan di luar pondok. Melihat diri sendiri seperti ini, aku tidak mungkin bisa bertahan di SMP atau SMA negeri. Cukup waktu SD saja. Tetapi tentu tidak bisa berhenti disitu.

Di awal kehidupanku di pondok itu. Aku yang menutup diri, sulit mendapat teman. Namun, di hari aku masuk ke pondok itu, aku begitu senang. Karena salah seorang teman SD-ku, ikut masuk ke pondok itu bersamaku. Kami satu kamar, memudahkanku beradaptasi.

Namanya Aqila. Umurnya lebih muda satu tahun dariku. Ia cantik, periang. Banyak yang menyukainya. Nama kamarku ‘Ummu Salamah’, dihuni oleh dua belas orang. Termasuk aku dan Aqila. Terdiri dari enam anak kelas tujuh, dua anak kelas delapan, dan empat anak kelas sembilan. Yang secara berurutan, anggotanya terdiri dari aku, Aqila, Rima, Aisyah, Naya, Kirani, kak Nazwa, kak Ajda, kak Rachel, kak Nasya, kak Adis, dan kak Kayla. Mereka semua orang yang menyenangkan. Hingga pada suatu waktu, masalah demi masalah bermunculan. Aqila mulai menunjukkan sifat aslinya. Menunjukkan ketidaksukaannya padaku, yang aku tidak tahu sebabnya apa. Tentu aku cukup sadar diri, aku belum bisa mandiri disana. Membuatku terlihat pemalas dan menjijikan. Namun, saat itu, yang seharusnya Aqila dan yang lainnya menasihatiku, memberi arahan. Mereka malah menjauhiku, menyindirku, dan tidak mempedulikanku. Sebenarnya tidak semua, Aisyah dan Rima hanya diam, tidak melakukan apapun. Begitu juga Kirani. Ia anak pindahan, datang di minggu kedua bulan pertama disana. Keluarganya orang-orang yang kaya. Ia memiliki banyak makanan. Sehingga, membuatnya hanya didatangi ketika ia memiliki makanan. Jika tidak, ia dijauhi. Nasib yang hampir sama, membuatnya tidak ikut menjauhiku. Ia hanya diam saja.

Dan tekanan demi tekanan itu, membuatku tidak nyaman berada di kamar. Aku selalu mencari kesibukan yang membuatku lebih sering menghabiskan waktu di luar kamar.

Suatu hari, Aqila pernah menyindirku, “Sayang sekali dia pindah, dia anak baik. Tidak seperti itu, tuh. Sok baik. Tahu`kan, siapa?”. Sinisnya, mengungkit cerita salah satu teman sekelasku yang baru saja pindah. Aku yang baru masuk ke kamar itu tersentak. Hatiku teriris mendengarnya. Aku bergegas mengambil barang yang tertinggal, lantas keluar dari kamar. Ia pernah meminta maaf. Tentu saja aku memaafkannya. Walaupun dia mengulangnya kembali setelah itu.

Satu semester berlalu, kini aku berada di kamar ‘Fathimah’, yang berisi delapan orang. Nyaman sekali berada di kamar itu. Tetapi, suatu waktu, sebuah masalah besar menimpaku. Aku difitnah oleh teman sekelasku. Malam itu, anak-anak kelas tujuh A disidang ustadzah. Masalahnya, karena mereka memainkan permainan yang tidak seharusnya dimainkan. Namun, masalah utamanya tidak hanya itu. Seseorang yang memfitnahku sebelumnya menyayat tangannya, meneteskan darahnya di atas papan permainan itu. Itulah yang membuat para ustadzah marah besar. Aku yang tidak ikut bermain, tetapi difitnah melapor ke ustadzah, hanya bisa menangis malam itu. Aqila berusaha menenangkanku. Aku tidak tahu dia melakukannya sepenuh hati atau tidak. Hatiku sakit sekali waktu itu, aku tidak bisa berhenti menangis hingga aku terlelap dalam tidurku. Dan ya, esoknya mataku benar-benar bengkak, hingga berubah bentuknya. Menyipit. Membuat orang-orang sulit mengenaliku. Orang yang memfitnahku tidak pernah meminta maaf. Bahkan, sampai waktu ia pindah sekolah.

Waktu demi waktu terlewati, pandemi Covid-19 datang menghampiri. Membuat pondokku diliburkan selama satu tahun lebih. Dan setelah aku kembali, aku sudah duduk di bangku kelas delapan semester dua. Begitu banyak hal yang membuatku berubah selama pandemi itu. Aku merasa ada yang memberontak di dalam diriku. Menuntutku agar lebih terbuka dan berbaur dengan teman-temanku. Melupakan masa-masa menyakitkan yang pernah dialami. Dan disitulah, aku merasa setengah dari diriku yang dulu kembali. Aku menjadi lebih banyak tersenyum, lebih ceria, berusaha berbaur di tengah tekanan batin itu. Di tengah trauma yang masih menghantui itu. Tentunya sedikit perubahan itu mengantarkanku kepada hal-hal yang baik. Walaupun tak luput juga pengalaman-pengalaman yang lagi dan lagi membuat diri ini tertekan. Tetapi dari hal itu, aku belajar banyak hal. Membuatku menjadi lebih kuat, lebih baik dari sebelumnya. Selalu berusaha yang terbaik untuk orang lain.

Dan di masa-masa kelas sembilan, masa dimana aku merasakan pikiran dan hatiku selalu berselisih.

Seperti saat aku sedang berhadapan dengan seseorang atau sekelompok orang, pikiranku selalu membuatku mengalah, walau di dalam hatiku rasanya sakit dan ingin membela diri.

Di tengah perubahan itu pula, aku banyak melakukan kesalahan. Yang membuat banyak orang tidak menyukaiku. Menemukan banyaknya kekurangan dalam diri ini. Ditambah ketidakadaannya rasa percaya diri, juga selalu merendahkan diri sendiri. Membuatku membenci diriku sendiri. Dan seiring berjalannya waktu, rasa benci itu semakin menjadi. Aku mulai suka menyakiti diriku sendiri. Seperti membenturkan kepalaku ke dinding, dan memukulkan tanganku yang terkepal ke dinding atau ke lantai. Melampiaskan amarah yang terpendam. Aku tidak merasa perbuatanku salah waktu itu, sehingga aku terus melakukannya.

Di penghujung kelulusan, ustadzah mengumpulkan anak-anak angkatanku. Ustadzah menegaskan, bahwa ustadzah menemukan banyaknya anak angkatanku yang suka menyakiti diri mereka dengan menyayat bagian-bagian tubuh mereka sendiri. Bahkan, tanpa ragu ustadzah menyebutkan nama-namanya. Disitulah aku tersadar, bahwa yang aku lakukan itu salah. Dan sejak saat itu aku menahan diri, sebenci apapun aku pada diriku sendiri.

Dan waktu pun berlalu begitu cepat. Kini, aku kembali ke kampung halamanku. Melanjutkan menuntut ilmu disana. Aku masuk di pondok yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Dan di awal aku berada di pondok itu, aku berada di kamar ‘Sumayyah-1’, yang dihuni delapan orang. Dua orang kelas sepuluh dan enam orang kelas tujuh. Awal masuk, aku sedikit sulit beradaptasi. Terkejut karena pondok itu berkali-kali lebih besar dari pondok yang sebelumnya. Ditambah adanya santri putra. Pondokku sebelumnya, pondok yang kecil. Tiga angkatan saja tidak sampai seratus orang.

Waktu demi waktu kembali berputar, anak-anak kamar mulai menunjukkan sifat aslinya. Jauh berbeda dari awal saling mengenal. Teman SMA sekamarku, Sherly namanya. Ia begitu tertutup. Melihatnya aku seperti melihat diriku yang dulu. Anak-anak kelas tujuh itu, Dila, Ara, Fida, Dinda, Defa, dan Bellicia. Mereka anak-anak yang menyenangkan. Selalu meramaikan suasana kamar. Tetapi, di sisi lain, merekalah yang membuatku tertekan. Sikap mereka yang kurang sopan, kata-kata mereka yang kasar, dan lainnya. Meskipun aku juga memiliki banyak kekurangan, setidaknya aku selalu berusaha yang terbaik. Sebagai ketua kamar dan kakak kelas mereka, aku selalu berusaha mengajari mereka hal yang baik, menasihati mereka apabila ada kesalahan, meminta maaf atas kekurangan diri, dan lainnya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, sikap mereka semakin memburuk. Mereka keras kepala, tidak ingin mendengar apa yang aku katakan. Mereka semua kecuali Ara. Ara cukup dekat denganku, aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuat kami dekat. Tetapi, itu terjadi ketika ia memiliki masalah dengan anak kelas tujuh lainnya. Sherly?. Ia hanya diam saja. ia yang tertutup dan polos, menjadi sasaran empuk bagi anak-anak kelas tujuh itu.

Hingga pada suatu waktu, mereka menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadapku, yang semakin lama semakin kentara. Mereka tanpa menahan diri, suka membicarakanku di belakang, dan juga tak segan untuk menyindirku ketika aku berada di kamar. Tentu aku tahu mereka membicarakanku, aku mengetahuinya dari Ara. Dan hal itu, membuat rasa traumaku kembali. Tekanan-tekanan itu kembali membuatku menjadi pendiam. Aku hanya berbicara ketika diperlukan. Tidak lebih. Aku juga menjadi jarang di kamar. Mengulang hal yang sama di ‘Ummu Salamah’ dulu. Mereka juga ikut mendiamkanku. Di kamar, aku hanya berinteraksi dengan Sherly dan Ara. Dan masalah itu memuncak ketika para kakak pengurus mengadakan lomba ‘bulan bahasa’. Aku yang bertugas mengurus properti angkatan di lomba dramusi, semakin menyibukkan diri di luar kamar. Berusaha yang terbaik untuk membuat background drama angkatan. Dan di tengah proses pembuatan background itu, tekanan itu semakin besar. Membuatku berangkat sekolah lebih pagi, dan pulang lebih malam ketika mengerjakan background dramusi itu.

Dan ketika malam dramusi itu dilaksanakan, anak-anak yang bertugas mengangkat serta menukar background melakukan kesalahan. Kesalahan yang tidak bisa dibilang kecil. Mereka meletakkan background yang salah pada suatu adegan!. Dari barisan penonton, aku berusaha memberi kode dengan bahasa isyarat. Dan ya, cara itu tidak berhasil. Aku mulai tidak bisa menikmati drama dari waktu itu. Mungkin yang lainnya menganggapnya remeh. Tapi bagiku, itu bukan hal yang bisa diremehkan. Dan aku kembali mengulang kesalahan. Aku memukul-mukul kepalan tanganku ke lantai aula. Aku tidak bisa lagi mengontrol emosiku. Setelah lomba malam itu selesai, aku ‘meledak’. Ya, aku tidak bisa menahan diri lagi. Tidak bisa memendam lagi. Di aula itu tersisa angkatanku dan angkatan para kakak pengurus. Membuatku terlihat mencolok. Perasaanku campur aduk. Tanganku terkepal semakin erat. Memukul diri sendiri. Air mataku turun membasahi pipi, yang semakin lama semakin deras. Beberapa temanku panik. Berusaha menenangkanku. Aku hanya bisa mendesis, melenguh tertahan. Teman di sebelahku memelukku, berniat menenangkan. Dua orang temanku lainnya berusaha menahan kepalan tanganku. Dan yang lainnya hanya melihat dari jauh. Atta, salah satu teman yang menahan tanganku, memintaku berhenti dan bersabar. Tentu aku tahu maksudnya baik. Tetapi pikiranku menyangkalnya, hati ini juga sudah terlalu sakit. Tekanan yang kurasakan tidak sesederhana yang mereka lihat. Bagaimana aku bisa berhenti?. Lestari, teman yang memelukku dari samping, menguraikan pelukannya. Aku masih menangis, menggeleng ketika ditawarkan untuk kembali ke kamar. Raeni, teman lainnya yang menahan tanganku, memintaku melemaskan tanganku, karena itu akan menyakitiku. Tidak bisa. Aku tidak bisa. Sedetik kemudian Raeni memelukku, berusaha menenangkan. Aku menangis terisak dalam pelukannya, hingga kak Mutia, salah satu pengurus, datang menghampiriku.

“Kenapa?, Zahro kenapa?. Mau kembali ke kamar?”. Tanya kak Mutia khawatir. Ia juga ikut menangis melihat kondisiku.

“Tidak. Ana tidak mau kembali ke kamar, ukhti. Tidak mau”. Suaraku parau. Aku terus menggeleng, menolak tawaran yang sangat ingin aku hindari.

Akhirnya, kak Mutia membawaku ke asrama. Kak Mutia berkata akan membawaku ke tempat yang nyaman untuk bercerita di asrama. Malam itu, setelah bercerita panjang lebar dengan kak Mutia, perasaanku lebih lega. Tetapi tetap ada yang mengganjal. Anak kamarku disidang oleh beberapa kakak pengurus. Ara?, ia menangis menceritakan kondisi kamar. Ia membelaku. Ingin membantuku. Dan setelah beberapa kali di bujuk, aku akhirnya kembali ke kamar. Hanya satu-dua orang yang meminta maaf. Sisanya berperilaku seolah tidak terjadi apa-apa. Aku hanya diam, beranjak tidur.

Bulan demi bulan berlalu, aku tetap bertahan di tengah tekanan itu. Hubunganku dan anak kamar mulai membaik. Tetapi tetap saja, luka itu masih membekas. Hingga lagi dan lagi, masalah datang menghampiri.

Dan setiap aku tidak kuat lagi memendam, aku selalu bercerita ke Raeni. Meminta saran darinya. Ya, sebenarnya aku merasa tidak enak terus-menerus bercerita tentang masalahku padanya. Tetapi, dia satu-satunya teman yang kupercaya. Suatu waktu Raeni pernah mengatakan kata-kata yang menusuk. Ia mengatakan yang intinya aku harus mencintai diri sendiri. Aku hanya menyengir. Berkata kalau aku akan berusaha.

Satu tahun di kamar itu akhirnya terlewati. Satu tahun yang begitu melelahkan. Kini aku berada di kamar ‘Sumayyah-10’. Dan aku baru saja melewati suatu masalah baru. Masalah yang hingga saat ini, rasa sakitnya masih menghantui. Beberapa minggu sebelum pindah kamar, aku berselisih dengan salah satu anak ‘Sumayyah-10’ yang lama. Sebenarnya masalahnya bukan dengannya. Tetapi dengan temannya. Dia yang dekat dengan salah seorang kakak pengurus, membuatnya mudah untuk membalas dendam temannya. Dengan mencari kesalahanku dan melaporkannya pada kakak pengurus yang dekat dengannya.

Masalah ini bukan masalah kecil bagiku, karena ini melibatkan banyak orang. Aku sungguh tertekan. Lagi-lagi hati dan pikiranku berlawanan. Salah satu akibat dari tekanan itu, aku jadi jauh dengan teman dekatku yang juga berada di ‘Sumayyah-10’ yang lama. Sebenarnya tidak ada masalah di antara kami berdua. Hanya saja, karena aku ingin menghindari orang itu, membuat pertemananku dengan teman dekatku merenggang. Dan yang luar biasa, sekarang aku berada satu kamar dengannya. Teman dekat, yang kini sudah tidak bisa dikatakan dekat lagi. Juga bersama anak tahfidz lainnya. Ya, kini Sumayyah lantai dua dihuni oleh anak-anak tahfidz.

Beberapa hari setelah aku berada di ‘Sumayyah-10’, malamnya aku memutuskan untuk merenung di rooftop asramaku.

“Ya Tuhan, betapa bodohnya hamba-Mu ini”. Aku tertawa. Menertawakan diri sendiri. Disertai air mataku yang perlahan menetes.

“Kalau saja kemarin aku tidak sebodoh itu, pastinya aku dan dia masih dekat”. Aku mengukir senyum getir.

Malam itu, aku merutuki diriku sendiri. Walaupun sebenarnya dalam hatiku, aku tidak ingin menyalahkan diri sendiri. Tetapi, kenyataan ini membuatku semakin membenci diriku sendiri.

“Yah, mau bagaimanapun itu sudah berlalu. Aku harus lebih baik lagi kedepannya”. Tatapanku masih tertuju pada langit malam. Mencoba berdamai dengan diri sendiri. Hatiku selalu berharap, agar Tuhan mengirimkan sesuatu atau seseorang yang bisa membuatku sepenuhnya mencintai diriku sendiri.

 

-TAMAT-

 

Biografi Penulis

Hai, namaku Azizah Qurrotul Aqyun. Aku berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Cerpen ini aku ambil dari sepotong kehidupan yang pernah aku jalani. Ambil baiknya, buang buruknya, ya. Semoga bisa menginspirasi para readers. Selamat membaca!.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar