Rabu, 24 Januari 2018
Aula SMA Negeri
2 Balikpapan
Setelah Penyisihan
Babak Dua
Aku merasa kehausan, kepanasan
dan ketegangan. Semua bercampur tak karuan. Aku menoleh ke arah Shohib,
sepertinya ia merasakan hal yang sama.
“Shohib! Shohib!” aku berbisik.
“Apa?”
“Anu yok…keluar ijin beli minum”
“Ayok sud! Ijin sama bu Hayyun”
Dua pasang kaki kami pun melangkah kea
rah bu Hayyun.
Tiba-tiba!
Langkah
kami terhenti!
“Eh mana dikasih ijin kalau beli
minum” bisik Shohib
“Issh….iyakah???? AKu pengen keluar
tapi. Ijin apa dong?”
Seketika terdiam!
“Oh! Anu aja sudah, ijin belajar di
luar.” Usulku
“O ya sudah !” Shohib menyetujui.
Dua pasang kaki kami pun kembali
melangkah kea rah bu Hayyun.
“Ibu….” Sapa kami dengan nada lelah.
Bu Hayyun hanya menoleh tanpa
menggerakkan bibir sedikitpun.
“Bu… bolehkah kita belajar di luar?
Panas!!”
“Iya nah bu. Boleh ya?”
Bu Hayyun tanpa berpikir
(sepertinya) langsung berkata.
“Iya sudah. Tapi ndak usah
jauh-jauh!”
“Ok! Siap “ kami menyahut gembira
sembari merapikan almamater dan buku.
Aku dan
Shohib pun berjalan ke arah pintu Aula SMADA. Namun, entah mengapa ada suatu
memori yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Memori tentang hal yang pernah
kulakukan dulu. Dan, aku ingin melakukannya kembali. Kuutarakanlah niatku pada
Shohib. Saat itu, posisiku dan Shohib ada di undakan tangga.
“Shohib! Shohib! Beli Batagor yok. Bawa
uang kan?”
“Bawa. Wih ayok sudah. Tapi jangan
bilang-bilang!”
“Siapa juga yang mau bilang ?”
keceku.
“Ayo sud. Let’s go! Sebelum teman-teman
lihat kita”
“Iya-iya”
Aku dan Shohib mulai menyusuri
lapangan.
“Eh gimana kalau kita ketahuan?”
“Ya udah paling SP 2”
“Amma, jangan ketahuan pale’!”
“Udah-udah tenang aja”
“Hmm…. Panasnya lagi” aku masih saja
mengeluarkan udara panas.
*** ***
Rabu, 24 Januari 2018
Gerbang SMA
Negeri 2 Balikpapan
Aku dan Shohib berbelok ke arah kiri dan mulai memasuki
gang dengan parit disekitarnya. Tampak juga warung dan rumah penduduk. Sesekali
ada motor yang bergerak ke arah kami dan kami harus menghindarinya. Shohib
berjalan di depanku dan aku di belakangnya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan
Shohib saat itu. Yang jelas, kami berdua fokus berjalan ke arah depan.
Tibalah di jalan Raya!
Jujur saja, aku merasa asing dengan
tempat ini. Namuan, kulihat Shohib, tampaknya ia sangat hapal seluk beluknya. Aku
hanya melangkahkan sepasang kakiku mengikuti langkah sepasang kakinya. Mata kami
sepertinya melakukan hal yang sama. Mencari sang lele’ batagor.
Oh, itu dia !
Terpampang jelas di gerobaknya ada
tulisan BATAGOR. Itulah yang kami cari.
“Le’ beli batagor nah le’ !” Sapaku
pada sang lele’.
“Berapa ? tanya sang lele’.
“15 ribu. Tapi dipisah 5 ribu – 5 ribu.
Sama pisah juga bumbunya”.
“Saya juga le’ ! 15 ribu dipisah”
sahut Shohib.
Sang lele’ pun mulai meracik
bungkusan batagor. Kami berdua mencari aqua. Lebih tepatnya aku menyuruh Shohib
mencarinya. Shohib pun mencari aqua di warung terdekat sekaligus membelinya.
Panasnya
!!
Terik
matahari masih saja menyengat dan memaksaku melepas alamamater. Aduh! Aku agak
kerepotan karena tanganku sudah memegang beberapa buku.
“Kalian berdua dari mana?”
Suara itu !
Suara itu datang dari sang lele’.
“Dari SMA Muhammadiyah 2 le’.”
“Muhammadiyah 2, dimana?”
“Di Mujahidin”
“Mujahidin itu dimana?” Sang lele’
masih kebingungan.
“Di kilo 10”
“Oh…. Kilo 10. Pesantren berarti?”
“Iya le’ “
Akhirnya sang lele’ tahu.
“Jauhnya. Kalian ngapain di sini?”
“Anu le’. Kita ada lomba di SMA 2”
“Oalah! Kok tahu disini ada batagor?”
Deg…..
Seketika aku dan Shohib saling
bertatapan. Bingung!
Kami berdua cengengesan.
“Hehehehe”
“Tau-tau aja le’ “
Sang lele’ hanya tersenyum,
mengangguk sembari meracik kembali bungkusan batagor.
Beberapa menit kemudian…..
Bungkusan batagor telah selesai
diracik dan dikresek. Kami berdua menukarnya dengan uang. Tak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada lele’.
*** ***
Rabu, 24 Januari 2018
Ruang Penerimaan
Tamu SMA Negeri 2 Balikpapan
Sekembalinya dari
beli batagor
Napasku menderu!
Kelelahan.
Aku dan Shohib duduk di kursi.
“Kayak apa ini nyembunyiin
batagornya?”
“Ambil tasmu lah!”
“Isshh…. Capek aku”
“Please, nah! Kamu kan pintar acting.
Jadi kalau ditanya-tanya, karang-karang aja sembarang!”
Ia mengeluh.
Tapi akhirnya mengalah.
“ya sudah, pale. Awas kamu
kemana-mana” Shohib langsung lari. Aku hanya mengangguk.
Seketika…..
Ruang penerimaan tamu SMA Negeri 2
terasa lengang. Aku meneguk aqua yang tadi dibeli Shohib. Terasa sekali keringatku
bercucuran di wajah dan di punggung. Sesekali ku ayun-ayunkan jilbabku dan ku
usap wajahku dengan tangan.
Shohib lama sekali.
Kupandangi sekeliling ruangan ini
dari tempat duduku. Ada banyak pajangan yang menampilkan seragam-seragam yang
harus dipakai oleh siswa siswi SMA Negeri 2. Setiap harinya berganti. Berbeda dengan
sekolahku. Dua hari baru berganti.
“Qo! Qo! Ayok cepat, Qo! Masukin batagornya!”
Shohib tiba-tiba datang dan
memerintahku. Aku tersentak dan langsung bertanya.
“Kenapa emangnya?”
‘Ada kak Agus, kita disuruh kumpul
sebentar!”
“Astaga, iyakah?”
Segera kumasukkan batagor ke dalam
tasnya Shohib, dan kami berdua langsung meluncur ke sayap kiri.
Disana tim senior dan tim junior
telah berkumpul.
Aku melempar senyum ke arah Shohib.
Dan sepertinya Shohib mengerti arti
senyumku.
*** ***
Selanjutnya….
Adalah kisah yang berbeda….
Di waktu yang berbeda…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar