Kamis, 25 Januari 2018

Kisah yang tak akan terulang kembali

Rabu, 24 Januari 2018
Aula SMA Negeri 2 Balikpapan
Setelah Penyisihan Babak Dua

Aku merasa kehausan, kepanasan dan ketegangan. Semua bercampur tak karuan. Aku menoleh ke arah Shohib, sepertinya ia merasakan hal yang sama.
“Shohib! Shohib!” aku berbisik.
“Apa?”
“Anu yok…keluar ijin beli minum”
“Ayok sud! Ijin sama bu Hayyun”
Dua pasang kaki kami pun melangkah kea rah bu Hayyun.


Tiba-tiba!
Langkah kami terhenti!
“Eh mana dikasih ijin kalau beli minum” bisik Shohib
“Issh….iyakah???? AKu pengen keluar tapi. Ijin apa dong?”
Seketika terdiam!
“Oh! Anu aja sudah, ijin belajar di luar.” Usulku
“O ya sudah !” Shohib menyetujui.
Dua pasang kaki kami pun kembali melangkah kea rah bu Hayyun.

“Ibu….” Sapa kami dengan nada lelah.
Bu Hayyun hanya menoleh tanpa menggerakkan bibir sedikitpun.
“Bu… bolehkah kita belajar di luar? Panas!!”
“Iya nah bu. Boleh ya?”
Bu Hayyun tanpa berpikir (sepertinya) langsung berkata.
“Iya sudah. Tapi ndak usah jauh-jauh!”
“Ok! Siap “ kami menyahut gembira sembari merapikan almamater dan buku.


Aku dan Shohib pun berjalan ke arah pintu Aula SMADA. Namun, entah mengapa ada suatu memori yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Memori tentang hal yang pernah kulakukan dulu. Dan, aku ingin melakukannya kembali. Kuutarakanlah niatku pada Shohib. Saat itu, posisiku dan Shohib ada di undakan tangga.
“Shohib! Shohib! Beli Batagor yok. Bawa uang kan?”
“Bawa. Wih ayok sudah. Tapi jangan bilang-bilang!”
“Siapa juga yang mau bilang ?” keceku.
“Ayo sud. Let’s go! Sebelum teman-teman lihat kita”
“Iya-iya”
Aku dan Shohib mulai menyusuri lapangan.

“Eh gimana kalau kita ketahuan?”
“Ya udah paling SP 2”
“Amma, jangan ketahuan pale’!”
“Udah-udah tenang aja”
“Hmm…. Panasnya lagi” aku masih saja mengeluarkan udara panas.

*** ***

Rabu, 24 Januari 2018
Gerbang SMA Negeri 2 Balikpapan

Aku dan Shohib berbelok ke arah kiri dan mulai memasuki gang dengan parit disekitarnya. Tampak juga warung dan rumah penduduk. Sesekali ada motor yang bergerak ke arah kami dan kami harus menghindarinya. Shohib berjalan di depanku dan aku di belakangnya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Shohib saat itu. Yang jelas, kami berdua fokus berjalan ke arah depan.

Tibalah di jalan Raya!

Jujur saja, aku merasa asing dengan tempat ini. Namuan, kulihat Shohib, tampaknya ia sangat hapal seluk beluknya. Aku hanya melangkahkan sepasang kakiku mengikuti langkah sepasang kakinya. Mata kami sepertinya melakukan hal yang sama. Mencari sang lele’ batagor.
Oh, itu dia !

Terpampang jelas di gerobaknya ada tulisan BATAGOR. Itulah yang kami cari.
“Le’ beli batagor nah le’ !” Sapaku pada sang lele’.
“Berapa ? tanya sang lele’.
“15 ribu. Tapi dipisah 5 ribu – 5 ribu. Sama pisah juga bumbunya”.
“Saya juga le’ ! 15 ribu dipisah” sahut Shohib.
Sang lele’ pun mulai meracik bungkusan batagor. Kami berdua mencari aqua. Lebih tepatnya aku menyuruh Shohib mencarinya. Shohib pun mencari aqua di warung terdekat sekaligus membelinya.

Panasnya !!
Terik matahari masih saja menyengat dan memaksaku melepas alamamater. Aduh! Aku agak kerepotan karena tanganku sudah memegang beberapa buku.
“Kalian berdua dari mana?”
Suara itu !
Suara itu datang dari sang lele’.
“Dari SMA Muhammadiyah 2 le’.”
“Muhammadiyah 2, dimana?”
“Di Mujahidin”
“Mujahidin itu dimana?” Sang lele’ masih kebingungan.
“Di kilo 10”
“Oh…. Kilo 10. Pesantren berarti?”
“Iya le’ “
Akhirnya sang lele’ tahu.

“Jauhnya. Kalian ngapain di sini?”
“Anu le’. Kita ada lomba di SMA 2”
“Oalah! Kok tahu disini ada batagor?”
Deg…..
Seketika aku dan Shohib saling bertatapan. Bingung!
Kami berdua cengengesan.
“Hehehehe”
“Tau-tau aja le’ “
Sang lele’ hanya tersenyum, mengangguk sembari meracik kembali bungkusan batagor.

Beberapa menit kemudian…..
Bungkusan batagor telah selesai diracik dan dikresek. Kami berdua menukarnya dengan uang. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada lele’.

*** ***

Rabu, 24 Januari 2018
Ruang Penerimaan Tamu  SMA Negeri 2 Balikpapan
Sekembalinya dari beli batagor

Napasku menderu!
Kelelahan.
Aku dan Shohib duduk di kursi.
“Kayak apa ini nyembunyiin batagornya?”
“Ambil tasmu lah!”
“Isshh…. Capek aku”
“Please, nah! Kamu kan pintar acting. Jadi kalau ditanya-tanya, karang-karang aja sembarang!”
Ia mengeluh.
Tapi akhirnya mengalah.
“ya sudah, pale. Awas kamu kemana-mana” Shohib langsung lari. Aku hanya mengangguk.
Seketika…..
Ruang penerimaan tamu SMA Negeri 2 terasa lengang. Aku meneguk aqua yang tadi dibeli Shohib. Terasa sekali keringatku bercucuran di wajah dan di punggung. Sesekali ku ayun-ayunkan jilbabku dan ku usap wajahku dengan tangan.

Shohib lama sekali.

Kupandangi sekeliling ruangan ini dari tempat duduku. Ada banyak pajangan yang menampilkan seragam-seragam yang harus dipakai oleh siswa siswi SMA Negeri 2. Setiap harinya berganti. Berbeda dengan sekolahku. Dua hari baru berganti.

“Qo! Qo! Ayok cepat, Qo! Masukin batagornya!”
Shohib tiba-tiba datang dan memerintahku. Aku tersentak dan langsung bertanya.
“Kenapa emangnya?”
‘Ada kak Agus, kita disuruh kumpul sebentar!”
“Astaga, iyakah?”
Segera kumasukkan batagor ke dalam tasnya Shohib, dan kami berdua langsung meluncur ke sayap kiri.

Disana tim senior dan tim junior telah berkumpul.
Aku melempar senyum ke arah Shohib.
Dan sepertinya Shohib mengerti arti senyumku.

*** ***

Selanjutnya….
Adalah kisah yang berbeda….
Di waktu yang berbeda…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar